HOME PROFIL Program Info Daftar

.

utamana jalma kudu rea batur keur silih tulungan silih titipkeun nyadiri budi akal lantaran ti pada jalma

Kamis, 24 Februari 2011

BEST PRACTICE

KEPALA SEKOLAH BERPRETASI KABUPATEN SUMEDANG
TAHUN 2006

Oleh :
DAHYA SUDRAJAT


Surat Keputusan (SK) penulis sebagai kepala sekolah, penulis terima tanggal 28 Oktober 2000. Sebelum itu penulis adalah seorang guru pada SD Negeri Pasanggrahan 1 Cabang Dinas Pendidikan Kecamatan Sumedang Selatan Kabupaten Sumedang.
SD Negeri Pasanggrahan 1 pada tahun 1990-an merupakan sekolah dasar ber-prototype sama se-Jawa Barat, dalam bentuk dan konstruksi bangunan. Secara fisik, bangunan sekolah tersebut bisa disebut representative mengingat pada saat itu, di Kabupaten Sumedang hanya ada satu. Hanya penulis menyayangkan, dalam perkembangannya baik dilihat dari sarana dan fasilitas belajar maupun dilihat dari tenaga pendidik dan kependidikannya tidak berkembang optimal. Mengapa demikian? Banyak hal yang bisa menyebabkan kompetensi dan potensi tidak berkembang optimal. Di antaranya, tidak ada political will dari para pejabat pembuat komitmen dalam hal ini para pemegang kebijakan untuk berbuat yang terbaik bagi negeri ini. Padahal mereka mengetahui tujuan didirikannya SD Gentra Masekdas (SDN Pasanggrahan 1) sebagai SD Unggulan tingkat Kabupaten.
Kalau saja para pembuat kebijakan ada kemauan dan keberanian untuk menata secara utuh dari keberadaan sekolah tersebut, insya Allah semuanya akan berjalan lancar sesuai dengan apa yang diharapkan oleh penggagasnya, yaitu Bapak Drs. Udin Koswara, S.H. Penataan tersebut bisa di mulai dari rekrutmen kepala sekolah, sumber daya gurunya, dan seterusnya sampai pada gilirannya sumber daya pendidikan di sekolah tersebut mumpuni dalam mengampu setiap bidang yang menjadi tugas dan tanggung jawabnya masing-masing.
Dari jabatan guru di sekolah itulah, penulis meniti karier sampai akhirnya Alhamdulillah menjadi kepala sekolah di SD Negeri Sukasirna 2. Untuk mengawali tugas sebagai kepala sekolah saat itu, sungguh sangat berat. Karena periode tersebut adalah periode transisi perubahan sistem pemerintahan dari sentralisisasi ke desentralisasi. Otonomi pemerintahan mulai dilaksanakan yang berpengaruh terhadap pengelolaan pendidikan di daerah. Pencitraan masyarakat terhadap jabatan kepala sekolah pun mulai bergeser. Dari yang semula merupakan jabatan strategis sebagai kepanjangtanganan Pemerintahan Kabupaten di daerah berubah menjadi kepala sekolah sebagai jabatan transit untuk memperpanjang usia dinas menunggu pensiun. Sehingga kesan masyarakat terhadap jabatan kepala sekolah adalah jabatan menunggu waktu yang tidak jelas arah tugas pokok dan tanggung jawabnya. Hal ini benar-benar membuat hati penulis gundah-gulana, tidak nyaman berada pada posisi jabatan kepala sekolah.
Atas saran dan pendapat dari para kepala sekolah senior, untuk mengatasi kondisi tersebut penulis berusaha membaca buku-buku tentang kepemimpinan (kepala sekolah). Dari buku tersebut timbul niat penulis untuk melaksanakan tugas sesuai peraturan-perundang-undangan yang berlaku tentang tugas pokok dan fungsi , serta peran kepala sekolah. Penulis susun program kerja, jadwal pembinaan guru dan kunjungan kelas, instrumen supervisi, dan penulis laksanakan tugas kepala sekolah (kepemimpinan) sesuasi dengan yang tertuang dalam tupoksi kepala sekolah. Banyak warga sekolah yang pro dan kontra. Di antaranya para guru dan kepala sekolah yang merasa tersaingi. Penulis sering mendapat tanggapan yang menyakitkan hati ketika melaksanakan tugas supervisi/pembinaan. Penulis diacuhkan. Jika menanyakan kesulitan apa yang perlu dibantu, seolah-olah mereka tidak punya masalah dan tidak punya kesulitan.
Pengalaman lain, ketika penulis menyodorkan instrumen supervisi untuk diisi, hampir semua komponen yang ditanyakan dijawab ada atau ya. Tetapi sangat ironis, setelah penulis melanjutkan tahapan selanjutnya yaitu studi dokumen untuk mengetahui keberadaan komponen yang ditanyakan dalam instrumen. Jauh dari perkiraan sebelumnya, banyak temuan adanya ketidaksesuaian. Beberapa komponen belum lengkap dan tidak ada (program pengajaran tahunan, program semester, analisis hasil evaluasi, program perbaikan/pengayaan, program Bimbingan dan Penyuluhan). Di saat itulah penulis mulai berkomentar, diskusi pun berlanjut.
Supervisi kelas dan kegiatan lainnya, penulis lakukan sesuai dengan jadwal secara terus-menerus dan berkelanjutan. Lama-kelamaan para guru memperlihatkan reaksinya dengan memperbaiki komponen yang sudah dibuat. Membuat dan mengerjakan yang belum ada. Bahkan lama-kelamaan penulis diminta untuk memberikan pembinaan kepada seluruh guru di gugus.
Rasa percaya diri penulis sebagai kepala sekolah mulai muncul. Hal itu dipertajam ketika penulis diundang oleh salah satu sekolah swasta di bilangan Buahbatu Bandung (kini menjadi sebuah lembaga pendidikan swasta termegah di Bandung Timur). Wuuahhh bangga menyandang jabatan sebagai kepala sekolah. Penulis dapat berbagi pengetahuan dengan guru maupun kepala sekolah lain, dapat memberikan kontribusi positif bagi dunia pendidikan.
Semua hasil pembinaan penulis arsipkan, dan setiap akhir semester penulis rangkum untuk disimpulkan, direkomendasikan kepada pimpinan, dan dijilid untuk menambah koleksi pustaka pribadi yang jumlahnya masih sangat terbatas.
“Bersama kesulitan ada kemudahan”, demikian Allah berfirman dalam Al-Quranul Karim. Demikian juga terjadi pada diri penulis, hambatan dan kesulitan silih berganti seakan mencoba kesungguhan yang sedang dilakukan. Namun tanpa kenal lelah, penulis terus melakukannya. Ada bahasa sastra puitis yang mengatakan, “Tidak bisa dengan berlari dicoba dengan berjalan. Tidak bisa dengan berjalan dicoba dengan cara berdiri. Sampai tidak bisa dengan berdiri dicoba dengan merangkak”.
Akhirnya, tiap guru meminta untuk supervisi klinis. Hal ini mereka lakukan untuk kepentingan kelengkapan administrasi pembelajaran dalam rangka pemenuhan tuntutan Penetapan Angka Kredit (PAK). Di samping itu, penulis mencoba menulis di surat kabar local dan mengadakan penelitian. Walaupun, penelitian yang penulis lakukan pada saat itu masih seputar penelitian deskriptif, komparatif, dan asosiatif.
Pada tahun 2007, penulis direkomendasi oleh teman kepala sekolah se-Kecamatan Sumedang Selatan untuk mewakili peserta seleksi kepala sekolah berprestasi tingkat Kabupaten Sumedang. Karya inovasi yang diangkat sebagai syarat administrasi, berjudul Pemberdayaan Gugus dalam Meningkatkan Kinerja Mengajar Guru di Kecamatan Sumedang Selatan.
Walaupun tidak menduduki posisi kepala sekolah berprestasi tingkat kabupaten, Alhamdulillah pada tahun berikutnya begitu digulirkan kebijakan sertifikasi guru dalam jabatan, penulis merupakan 12 peserta pertama lulus portofolio dari 26 peserta se-kabupaten Sumedang.
Adapun langkah-langkah yang penulis lakukan khusus menjelang seleksi kepala sekolah berprestasi tahun 2006 adalah sebagai berikut.
1. membaca buku panduan seleksi kepala sekolah berprestasi tahun 2006;
Pada umumnya hanya dengan mempelajari petunjuk teknis Pemilihan Kepala Sekolah Berprestasi kita sudah mendapatkan gambaran bagaimana cara dan mekanisme pemilihan kepala sekolah berprestasi baik di tingkat kecamatan maupun di tingkat berikutnya. Namun petunjuk teknis tersebut biasanya sampai ke tingkat kecamatan(guru) satu bulan bahkan kurang dari seminggu sebelum hari H pelaksanaan lomba. Pertanyaannya: mampukah para kepala terpilih nanti mempersiapkan segala macam persyaratan lomba (portofolio, Penelitian Tindakan Kelas, karya inovatif, presentasi PTK) dalam waktu kurang dari satu bulan? Berangkat dari pertanyaan tersebut penulis ingin berbagi pengalaman persiapan apa saja dan bagaimana kiat-kiatnya agar terpilih menjadi guru berprestasi. Walaupun demikian keadaannya, paling tidak diakhir masa persiapan dipertajam dengan adanya aturan tersebut.
2. melengkapi persyaratan;
3. mengisi curiculum vitae dan melengkapi lampirannya;
4. menyusun karya tulis dan mengumpulkan yang sudah ada;
5. menyusun portofolio;
6. membaca buku dan perundang-undangan yang berhubungan dengan pendidikan dan kepemimpinan kepala sekolah;
7. belajar bahasa Inggris dan komputer;
8. berkonsultasi dengan orang-orang yang lebih tahu.

Kunci keberhasilan:
1. Memahami dan melaksanakan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku.
2. Melaksanakan tugas sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku dengan penuh kesungguhan dan tanggung jawab.
3. Mengarsipkan dokumen-dokumen penting.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar